Krisis diabetes di Asia Selatan membutuhkan peran keluarga: bagaimana kita dapat beralih dari perawatan informal menuju keterlibatan terintegrasi?
Diabetes tipe 2 (T2D) menjadi masalah yang semakin mengkhawatirkan di Asia Selatan, dengan prevalensi yang melonjak selama dua dekade terakhir. Anggota keluarga sering kali memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil dan pengelolaan T2D, namun keterlibatan mereka masih bersifat informal, tidak terstruktur, dan tidak diakui dalam sistem layanan kesehatan. Pandangan ini menyerukan pendekatan yang lebih terstruktur dan adil dalam keterlibatan keluarga dalam perawatan T2D, dengan menguraikan tiga model (didukung keluarga, melibatkan seluruh keluarga, dan dipimpin keluarga) yang dapat mengoptimalkan peran keluarga dalam perawatan T2D.
Mengingat keragaman struktur rumah tangga, intervensi harus dapat disesuaikan dengan dinamika keluarga yang beragam. Meskipun keterlibatan keluarga dapat meningkatkan kualitas perawatan, tantangan seperti hambatan budaya, ketimpangan gender dan usia, serta panduan layanan kesehatan yang tidak konsisten harus diatasi. Penyedia layanan memerlukan pelatihan dan protokol yang jelas untuk melibatkan keluarga, sementara kebijakan harus memastikan bahwa pengasuh dilengkapi dengan dukungan yang memadai. Alat digital, termasuk media sosial dan telemedisin, menawarkan cara yang menjanjikan untuk meningkatkan dukungan keluarga dalam pengelolaan T2D. Pada akhirnya, Asia Selatan harus beralih dari ketergantungan pada perawatan informal menuju keterlibatan keluarga yang terintegrasi dalam sistem, yang mengakui dan memberdayakan mereka yang sering berada di garis depan perawatan.