Pola Gaya Hidup pada Pasien Diabetes Tipe 2
Gaya hidup modern telah menyebabkan perilaku menetap, berkurangnya partisipasi dalam gerakan aktif dan aktivitas fisik selama waktu luang, pola makan yang tidak sehat, serta meningkatnya paparan terhadap stres. Penting untuk mengkaji interaksi antara beberapa faktor risiko gaya hidup, alih-alih hanya berfokus pada satu faktor saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola gaya hidup pada sekelompok pasien diabetes tipe 2 serta hubungan komponen-komponennya dengan parameter metabolik tertentu. Dengan menggunakan analisis komponen utama, kami mengidentifikasi tiga pola pola makan: pola makan bijak (lemak, minyak, sereal, kentang, sayuran, ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah-buahan), pola makan Barat (daging dan produk daging, telur, serta minuman bersoda), dan pola makan tradisional (susu dan olahannya, sup, serta saus, dengan asupan gula/camilan yang rendah).
Selain itu, dengan menggunakan metode analisis yang sama, kami mengidentifikasi dua pola gaya hidup: pola gaya hidup yang tidak memadai (pola pola makan Barat, jam tidur yang lebih lama, dan tingkat stres yang lebih rendah) serta pola gaya hidup tradisional (pola pola makan tradisional, aktivitas fisik (PA) yang lebih tinggi, dan status tidak merokok). Pola gaya hidup yang tidak memadai dikaitkan dengan usia yang lebih muda, hipertensi, dan neuropati diabetes. Pola gaya hidup tradisional terkait dengan kadar glukosa darah pasca-makan yang lebih rendah. Individu yang tidak aktif secara fisik lebih cenderung berusia di atas 65 tahun dan memiliki kadar hemoglobin terglikasi.