Reportase:
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Laporan Penyakit Tidak Menular (PTM) Tahun 2025 serta Maksimalisasi Pemanfaatan Website BAHIMAT terkait Data Tracking Prediabetes dan Diabetes Melitus (DM) di Puskesmas Kota Balikpapan
19 November 2025
PKMK-Balikpapan. Pertemuan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Laporan Penyakit Tidak Menular (PTM) Tahun 2025 serta maksimalisasi pemanfaatan website BAHIMAT terkait data tracking prediabetes dan Diabetes Melitus (DM) di Puskesmas Kota Balikpapan pada Rab (19/11) dibuka oleh dr. Erica Handritha selaku Plt Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Balikpapan. Dalam sambutannya, Erica memberikan penekanan serius terhadap pengendalian PTM, terutama DM, menyoroti ancaman beban biaya kesehatan yang besar, dengan prediksi bahwa BPJS akan membiayai secara signifikan layanan hemodialisa (cuci darah) di rumah sakit. Oleh karena itu, pihaknya mengingatkan pentingnya meminimalisir dampak agar penyandang DM tidak cepat mengalami komplikasi seperti nefropati diabetik atau retinitis yang menyebabkan kebutaan. Erica menegaskan bahwa setiap kegiatan Puskesmas, di dalam maupun di luar gedung, minimal harus mampu mendeteksi tiga PTM utama, yakni DM, hipertensi, dan obesitas, dan petugas wajib membawa perlengkapan lengkap seperti alat pemeriksaan darah, tensi, dan meteran lingkar perut. Kemudian, tindak lanjut sangat krusial, terutama pada hasil pemeriksaan yang menunjukkan kondisi pra penyakit (prediabetes) atau kondisi penyakit (DM), dengan fokus meminimalisir dampak. Selain itu, narasumber juga menyinggung ancaman minuman berpemanis yang rata-rata mengandung 22,8 gram gula per sajian, yang terbukti meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, dan penyakit jantung koroner, mengingat survei 2018 menunjukkan 60% penduduk Indonesia mengkonsumsi minimal satu jenis minuman manis per hari. Plt Kabid P2P juga melaporkan bahwa capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk Usia Produksi dan hipertensi masih di bawah 76% menjelang TW IV, menyebut beberapa Puskesmas seperti Gunung Sari Ulu, Karang Jati, Lamaru, dan Batu Ampar yang perlu meningkatkan capaian hipertensi mereka.
Sesi dilanjutkan dengan pemaparan dari Candra, MPH dan Lilik Haryanto, S.Si dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM. Candra memperkenalkan BAHIMAT sebagai akronim dari Balikpapan Hidup Manis Tanpa Gula, diartikan sebagai bersungguh-sungguh, yang mencerminkan semangat yang diharapkan dalam pengendalian DM. Narasumber mempertanyakan apakah program yang berjalan saat ini hanya “menggugurkan kewajiban” untuk mencapai target administratif 100% (kerja), ataukah sudah mencapai kinerja sebenarnya, yaitu pengendalian DM, misalnya menurunkan nilai HbA1c di bawah 7%. Berdasarkan data BPJS, kasus DM per kecamatan menunjukkan bahwa Balikpapan Utara memiliki kasus tertinggi, dan tren kasus terus meningkat dengan klaim kesehatan yang sangat tinggi. Candra menekankan bahwa Puskesmas harus membangun sistem layanan yang memiliki registry data yang jelas (by address, by name, by NIK), mencakup nilai klinis seperti GDS, GDP, dan HbA1c, agar keberhasilan intervensi dapat terukur secara berkala. Untuk mengatasi tantangan ini, diusulkan lima pilar transformasi: Tata Kelola Data Terpadu (membuat dashboard di website BAHIMAT), Pencegahan Berbasis Komunitas, Transformasi Pelayanan Kesehatan Kolaboratif (kemitraan dengan jejaring Puskesmas seperti klinik), Regulasi Daerah, dan Transformasi Pembiayaan.
Dalam sesi diskusi, tantangan besar yang dihadapi oleh pengelola program PTM di Puskesmas menjadi fokus utama. Petugas Puskesmas menyampaikan beban kerja yang berat karena satu orang memegang banyak program (seperti PTM dan Diare), ditambah beban administrasi yang mengharuskan pengisian data secara manual ke berbagai aplikasi (ASIK, SIPTM, E-Puskesmas). Seorang dokter dari Puskesmas bahkan mengajukan kebutuhan mendesak untuk aplikasi yang mampu menarik data (bridging) dari Rekam Medis Elektronik (RME) berdasarkan diagnosa (misalnya E10.6), agar mereka dapat mengevaluasi efektivitas pengobatan, memantau nilai gula darah bulanan, dan mengidentifikasi pasien komplikasi tanpa harus menginput ulang data satu per satu, karena bridging data ke ASIK dan SIPTM sering bermasalah. Petugas juga meminta dukungan regulasi daerah yang kuat, seperti penerapan sugar tax, karena upaya edukasi dan pengobatan di Puskesmas terhambat ketika pasien DM tetap memiliki akses dan konsumsi makanan manis di luar. Menanggapi hal tersebut, Candra, MPH, menyarankan agar Puskesmas memanfaatkan website BAHIMAT untuk mempublikasikan aktivitas Puskesmas dan memetakan data kasus DM untuk tingkat kota, serta mengingatkan pentingnya penegakan diagnosa (prediabetes atau DM) dengan pemeriksaan lanjutan dan memasukkan pasien ke Prolanis, dengan target pengendalian DM dan Hipertensi minimal dalam 3 bulan.
Reporter: Candra, MPH
Tags: SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur